Aku baru saja mengenali satu lagu lama yang dah sewaktu umurnya denganku. 1979, beb. Melodi 70annya sungguh menggesek tali hati dan jiwa.
“Berita Kepada Kawan” oleh Ebiet G. Ade.
Dengan liriknya yang menusuk kalbu, tema asalnya adalah berkenaan kerosakan alam sekitar.
“Berita Kepada Kawan” oleh Ebiet G. Ade.
Dengan liriknya yang menusuk kalbu, tema asalnya adalah berkenaan kerosakan alam sekitar.
Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk di sampingku, kawan
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan
Sayang engkau tak duduk di sampingku, kawan
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan
Ho ho ho
Ho ho ho ho
Ho ho ho
Ho ho ho ho
Ho ho ho ho
Ho ho ho
Ho ho ho ho
Tubuhku terguncang dihempas batu jalanan
Hati tergetar menampak kering rerumputan
Perjalanan ini pun seperti jadi saksi
Gembala kecil menangis sedih
Hati tergetar menampak kering rerumputan
Perjalanan ini pun seperti jadi saksi
Gembala kecil menangis sedih
Kawan, coba dengar apa jawabnya
Ketika ia kutanya mengapa
Bapak-ibunya telah lama mati
Ditelan bencana tanah ini
Ketika ia kutanya mengapa
Bapak-ibunya telah lama mati
Ditelan bencana tanah ini
Sesampainya di laut kukabarkan semuanya
Kepada karang, kepada ombak, kepada matahari
Tetapi semua diam, tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit
Kepada karang, kepada ombak, kepada matahari
Tetapi semua diam, tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit
Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang
Ho ho ho
Ho ho ho ho
Ho ho ho
Ho ho ho ho
Ho ho ho ho
Ho ho ho
Ho ho ho ho
Ho ho ho
Ho ho ho ho
Ho ho ho
Ho ho ho ho
Ho ho ho ho
Ho ho ho
Ho ho ho ho
Kawan, coba dengar apa jawabnya
Ketika ia kutanya mengapa
Bapak-ibunya telah lama mati
Ditelan bencana tanah ini
Ketika ia kutanya mengapa
Bapak-ibunya telah lama mati
Ditelan bencana tanah ini
Sesampainya di laut kukabarkan semuanya
Kepada karang, kepada ombak, kepada matahari
Tetapi semua diam, tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit
Kepada karang, kepada ombak, kepada matahari
Tetapi semua diam, tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit
Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang
Ho ho ho
Ho ho ho ho
Ho ho ho
Ho ho ho ho
Ho ho ho ho
Ho ho ho
Ho ho ho ho
Ho ho ho
Ho ho ho ho
Ho ho ho
Ho ho ho ho
Ho ho ho ho
Ho ho ho
Ho ho ho ho
Perkaitan lagu ini bagiku pula lain sekali. Ia menggambarkan kerinduan pada sahabat yang telah meninggalkan diri, serta kehampaan yang berkaitan. Dan pada diriku, tidak ada yang lebih menggambarkan kesepian dan kerinduan ini dari pemandangan gunung-ganang.
Jika anda ada Spotify, lagu berkenaan boleh diakses di sini.

No comments:
Post a Comment